GARUT — Pemerintah Kabupaten Garut menegaskan komitmennya dalam memperkuat kemandirian pangan dan meningkatkan daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor pangan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Kick Off Pemberdayaan UMKM dan Kelompok Masyarakat Supplier Program MBG yang digelar di Pabrik PT Mandala 525, Jalan Guntur Melati, Kecamatan Tarogong Kidul, Rabu (21/1/2026).
Kegiatan strategis ini dihadiri sekaligus dibuka langsung oleh Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin. Ia menilai program tersebut sebagai langkah terpadu untuk menjawab berbagai tantangan klasik yang selama ini dihadapi UMKM, khususnya pada sektor produk olahan berbahan baku kedelai.
Bupati Garut menekankan bahwa pemberdayaan UMKM tidak cukup hanya sebatas pelatihan, tetapi harus menyentuh seluruh rantai nilai usaha, mulai dari ketersediaan bahan baku, proses produksi, jaminan mutu, keamanan pangan, hingga akses pasar dan permodalan.
“Ini adalah bentuk pendampingan yang menyeluruh. UMKM tidak lagi dibiarkan menghadapi persoalan bahan baku sendiri. Kedelai akan kita siapkan, prosesnya kita dampingi, teknologinya kita berikan, pasarnya kita bukakan, dan modalnya juga kita fasilitasi,” tegasnya.
Dalam rangka menjamin kualitas dan keamanan pangan, Pemerintah Kabupaten Garut menggandeng Universitas Padjadjaran (UNPAD) untuk memastikan proses produksi berjalan sesuai standar. Selain itu, Dinas Kesehatan turut dilibatkan guna menjamin produk olahan UMKM memenuhi persyaratan pangan yang baik, aman dikonsumsi, serta memiliki daya simpan yang memadai.
Dari sisi hilir, Pemkab Garut juga membuka akses pasar melalui kolaborasi dengan Program MBG. Bupati Garut menyampaikan bahwa pihaknya akan mengirimkan surat resmi kepada BGN agar produk UMKM asal Garut dapat dipertimbangkan dan direkomendasikan, meskipun keputusan akhir tetap berada pada masing-masing SPPG.
Pengembangan budidaya kedelai lokal menjadi salah satu fokus utama dalam program ini. Bupati menyebutkan, Kabupaten Garut memiliki kondisi agroklimat yang sangat sesuai untuk tanaman kedelai, sementara kebutuhan nasional masih bergantung pada impor dalam jumlah besar.
“Ini peluang besar. Kedelai adalah komoditas vital yang digunakan di hampir semua rumah tangga Indonesia. Jika Garut mampu mengembangkan budidaya kedelai, maka kita tidak hanya memperkuat UMKM, tapi juga berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Dari aspek pembiayaan, Pemkab Garut juga membuka akses permodalan yang lebih luas dan ramah bagi pelaku UMKM. Bupati Garut mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan Direktur Bank BJB untuk membahas berbagai skema pembiayaan komersial dengan bunga ringan agar UMKM dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Tujuannya jelas, kita ingin melahirkan UMKM yang berdaya saing karena disokong oleh sistem yang kuat,” tambahnya.
Sementara itu, pemilik PT Mandala 525 (MDL 525), Haris Kalicman, menegaskan kesiapan perusahaannya dalam mendukung program tersebut, khususnya pada aspek kualitas dan standar produksi pangan.
“MDL 525 menjamin kualitas produk dengan teknologi dan kapasitas yang kami miliki. Kami sudah berizin BPOM dan memiliki sertifikat CPPOB (Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik), sehingga standar mutu dan keamanan pangan menjadi prioritas utama,” jelasnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, perbankan, dan pelaku UMKM, program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan UMKM berbasis bahan baku lokal, khususnya kedelai, yang mampu mendorong produk olahan Garut naik kelas dan berdaya saing di pasar yang lebih luas serta berkelanjutan.(pey)



