Tasikmalaya berduka. Salah satu guru tasawuf karismatik, H. Wahyudin, berpulang ke rahmatullah pada 19 Juli 2025 di padepokannya yang beralamat di Sundaketa, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya. Di mata para murid dan sahabatnya, beliau bukan sekadar guru, tetapi juga penuntun ruhani sejati.
Bagi Hendra Jaenuri, salah satu muridnya, almarhum bukan hanya guru, tetapi juga ibarat keluarga dan sahabat sejati.“Saya sehari-hari memanggil beliau ‘Aa Wahyu’. Karena bagi saya, beliau itu bukan hanya guru, tetapi juga seperti kakak,” ujar Hendra.
Di usia sepuhnya, H. Wahyudin tetap dikenal dengan panggilan akrab “Aa” oleh murid-muridnya. Bukan karena kurangnya adab, namun karena kebaikan hati beliau yang membuat semua orang merasa nyaman saat berbicara dengannya.
“Bukan saya tidak punya adab kepada guru, tapi Aa Wahyu sangat baik. Enak kalau ngobrol tentang kehidupan, bikin hati tenang,” tutur Hendra mengenang.
Mengajarkan Syukur dan Ikhlas
Selama masa belajarnya, Hendra banyak mendapatkan pelajaran hidup dari sang guru, bukan hanya tentang ilmu tasawuf, tetapi juga cara menghadapi rasa kecewa dan kebahagiaan dalam hidup.
Yang paling diingat Hendra, gurunya selalu menekankan untuk bersyukur, ikhlas, sabar, dan terus berusaha, apa pun hasilnya, semua dikembalikan kepada Allah SWT.
“Semua hasil serahkan pada Allah SWT. Karena yang menghidupkan dan mematikan kita adalah Allah SWT,” ujar Hendra menirukan nasihat sang guru.Sosok yang Akan Selalu Dikenang
Bagi para murid, H. Wahyudin bukan hanya pengajar ilmu tasawuf, tetapi pembimbing akhlak dan ketenangan jiwa. Beliau sabar dalam membimbing, lembut dalam berbicara, namun tegas dalam menjaga nilai kebaikan.
“Beliau adalah seorang guru karismatik bagi saya. Beliau adalah guru ruh sejati,” kenang Hendra dengan mata berkaca-kaca.
Kini, Aa Wahyu telah tiada, namun kebaikan dan keteladanannya akan selalu hidup dalam ingatan para murid dan masyarakat Tasikmalaya. Ketekunan beliau dalam mengajarkan tasawuf dan menuntun manusia agar dekat dengan Sang Pencipta menjadi amal jariyah yang tak akan terputus.
Semoga Allah SWT menerima semua amal baik beliau, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Selamat jalan, Guru. Jasamu akan selalu kami kenang.


