GARUT — Momentum Ramadan dimanfaatkan Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, untuk berbagi kepedulian kepada masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Pada hari ke-16 Ramadan, Jumat (6/3/2026), ia melakukan kegiatan sosial dengan mengunjungi keluarga pemulung di Kampung Pinggirsari, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota.
Kunjungan tersebut dilakukan bersama Lurah Paminggir Dede Nasir, Supriadi dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Garut, serta Nining selaku pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kelurahan Paminggir. Mereka mendatangi rumah milik Dini Nurhayati yang berada di RT 03 RW 03.
Kondisi rumah yang ditempati Dini bersama keluarganya memprihatinkan. Bangunan yang sudah tua tampak rapuh dan harus ditopang bambu agar bagian atapnya tidak ambruk. Meski demikian, rumah tersebut tetap menjadi tempat tinggal bagi keluarga kecil itu.
Dalam kesempatan tersebut, Yudha Puja Turnawan memberikan bantuan berupa sembako dan santunan uang tunai dari dana pribadinya. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban keluarga yang sehari-hari hidup dalam keterbatasan ekonomi.
“Di hari ke-16 Ramadan ini saya ngabuburit bersama Pak Dede Nasir selaku Lurah Paminggir, Pak Supriadi dari Dinas Ketahanan Pangan, dan Ibu Nining pendamping PKH untuk melihat langsung kondisi warga yang membutuhkan bantuan,” ujar Yudha.
Diketahui, Ibu Dini merupakan ibu rumah tangga yang tinggal bersama suaminya, Yadi. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Yadi bekerja sebagai pemulung yang setiap hari berkeliling di wilayah Kecamatan Garut Kota mengumpulkan barang bekas seperti botol plastik, kardus, dan besi tua.
Barang-barang yang berhasil dikumpulkan kemudian dijual kepada pengepul bernama Epul di kawasan Rengganis, yang masih berada di wilayah Kelurahan Paminggir. Penghasilan dari pekerjaan tersebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Biasanya, Yadi baru pulang menjelang malam setelah seharian mencari barang bekas di berbagai sudut kota. Kehidupan keluarga tersebut berjalan sederhana dan sering kali dihadapkan pada kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Selain persoalan ekonomi, kondisi tempat tinggal juga menjadi masalah serius. Atap rumah yang nyaris roboh dan dinding yang sudah rapuh membuat bangunan tersebut berpotensi membahayakan keselamatan penghuninya.
Namun upaya untuk mendapatkan bantuan perbaikan rumah juga tidak mudah. Rumah yang ditempati keluarga Dini berdiri di atas tanah wakaf yang diperuntukkan sebagai lahan pemakaman umum, sehingga tidak dapat diusulkan dalam program bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu) dari pemerintah.
“Karena berdiri di atas tanah wakaf yang diperuntukkan untuk pemakaman umum, program Rutilahu dari pemerintah tidak bisa menyentuh keluarga ini,” jelas Yudha.
Meski menghadapi keterbatasan regulasi, Yudha bersama aparat kelurahan dan pihak terkait tetap berupaya mencari solusi agar keluarga tersebut bisa mendapatkan bantuan.
Pemerintah Kelurahan Paminggir berencana menyusun proposal untuk mengajukan bantuan kepada berbagai pihak, termasuk melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan maupun dukungan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Sebagai langkah awal, Yudha juga telah menghubungi Direktur Utama BPR Garut agar dapat meninjau langsung kondisi rumah keluarga tersebut.
“Saya sempat menelpon Direktur Utama BPR Garut, dan beliau menyampaikan akan menyempatkan waktu pada hari Senin untuk meninjau langsung rumah keluarga ini,” kata Yudha.
Ia berharap kunjungan tersebut dapat membuka peluang kolaborasi bantuan sehingga keluarga Ibu Dini memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
Di bulan Ramadan yang sarat dengan nilai kepedulian sosial, Yudha mengajak berbagai pihak untuk ikut membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Semoga di bulan Ramadan ini semakin banyak para agnia yang terketuk hatinya untuk membantu keluarga pemulung ini, sehingga mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.(Pey)



