GARUT – Program desa digital yang dicita-citakan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, adalah program yang baik. Dan program desa digital ini tentunya menyasar semua aspek di desa, mulai dari bagaimana masyarakat mendapatkan akses pelayanan di kantor desa, bagaimana masyarakat bisa memasarkan produknya secara online dan lain sebagainya.
Untuk segi pelayanan di kantor desa sendiri. Diharapkan dengan program desa digital, masyarakat bisa mendapatkan akses pelayanan secara online. Sehingga tidak mesti masyarakat datang langsung ke kantor desa ketika membutuhkan pelayanan.
Artinya pelayanan di kantor desa tidak dibatasi waktu dan jarak. Dimanapun masyarakat membutuhkan pelayanan desa bisa diakses secara digital atau online.
Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum ketika berkunjung ke Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut belum lama ini menyebut bahwa Pemprov Jabar sejak awal sudah mencanangkan program desa digital.
Digitalisasi desa ini tentunya dalam segala aspek. Dan salah satunya menurut Uu, dalam hal pelayanan di kantor desa diharapkan bisa secara digital atau online.
Artinya ketika masyarakat ingin mendapatkan pelayanan dari kepala desa bisa dilakuan tanpa tatap muka.
“ Yang jelas akses masyarakat untuk bertemu untuk membutuhkan kebijakan kepala desa, semuanya digital,” ujar Uu Ruzhanul Ulum.
Walaupun demikian, Uu menyebut bahwa untuk menuju ke arah sana perlu waktu dan belum semua desa bisa seperti itu.
Di Kabupaten Garut sendiri kebanyakan desa tampaknya belum bisa memaksimalkan pelayanan secara digital. Walaupun banyak desa yang sudah mempunyai website desa.
Seperti halnya yang diungkapkan oleh Sekdes Samarang, Kecamatan Samarang, Bayu Krisnapati belum lama ini. Menurutnya untuk Desa Samarang website desa masih belum sempurna dan masih menggunakan fitur gratis.
Selama ini pihaknya sudah menyelenggarakan pelatihan website desa yang digagas pendamping dengan salah satu SMK di Kabupaten Garut. Namun penerapannya sendiri memang belum sempurna.
Di sisi lain, menurut Bayu, masyarakat Desa Samarang sendiri sebetulnya sudah melek terhadap teknologi digital. Masyarakat Desa Samarang sudah paham dan terbiasa mengakses internet.
“ Karena masyarakatnya sendiri masuk Desa perkotaan, sudah mulai mengerti desa digital. Itu sangat dibutuhkan terutama urusan informasi ke publik karena desa digital memudahkan masyarakat menerima informasi,” ujarnya.

Sementara menurut Egi Egiana, Sekdes Sukakarya, Kecamatan Samarang, untuk di desanya pada tahun 2022 ini belum menginjak kepada pelayanan secara digital karena terbentur anggaran.
“ Untuk sementara ini kita masih tetap di tahap perencanaan. Untuk desa digital mungkin di tahun 2022 kita perlu koordinasi lai dengan desa, lembaga desa yang lain,” ujarnya.
Masalah anggaran yang saat ini masih fokus terhadap alokasi blt dana desa sebagaimana yang diatur oleh perpres 104, membuat belum adanya gerakan menuju desa digital.
Hal yang sama juga diungkapkan Sekdes Pamulihan, Kecamatan Cisurupan, Ripki. Sampai saat ini untuk pelayanan secara digital masih dalam proses pengembangan.
“ Belum sepenuhnya. Saat ini masih dalam proses pengembangan. Nanti kita informasikan juga supaya masyarakat bisa mengakses web desa,” ujarnya.

Kendati demikian Ripki sangat memahami pentingnya pelayanan secara digital. Karena dengan pelayanan digital, bisa memudahkan akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan di desa.
Sementara itu menurut salah satu jurnalis di Kabupaten Garut, Feri menyebut bahwa untuk menuju desa digital, yang paling diperlukan adalah sumber daya manusia (SDM).
Menurutnya desa perlu menyiapkan SDM yang mumpuni dan fokus untuk mengelola website desa.
“ Untuk SDM ini tentunya harus dipersiapkan SDM yang fokus dan harus mendapatkan pelatihan-pelatihan. Dan untuk menyiapkan SDM yang siap mengelola website tidak bisa hanya pelatihan sehari dua hari saja. Perlu proses panjang dan perlu mentor yang berpengalaman,” ujarnya.
Untuk mentor sendiri menurut Feri, diperlukan orang-orang yang berpengalaman mengelola website. Salah satunya adalah dari kalangan wartawan online yang terbiasa mengelola website.
“ Tentunya tidak mesti dari kalangan wartawan. Namun menurut saya wartawan online adalah orang-orang yang memang sehari-hari pekerjaannya di bidang itu. Kemudian wartawan online tentunya tidak hanya bisa belajar bagaimana membuat artikel di website tapi juga bisa belajar tentang ilmu kejurnalistikan,” katanya.(gilang/atu)



