GARUT – Asap belum sepenuhnya hilang dari puing-puing rumah kayu di Kampung Sukatani RT 02 RW 07 Desa Sukatani, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut. Namun di tengah arang yang menghitam dan dinding yang roboh, secercah harapan datang mengetuk pintu duka.
Selasa, 24 Februari 2026, Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, hadir langsung menemui korban kebakaran, Masitoh (42), seorang ibu sekaligus tulang punggung keluarga yang kini harus memulai kembali hidupnya dari nol. Kunjungan tersebut turut didampingi Camat Cisurupan Ma’mun, Kepala Desa Sukatani Naim, serta pendamping Linjamsos, sebagai bentuk empati dan tanggung jawab bersama atas musibah yang terjadi.
Musibah itu terjadi pada Senin, 23 Februari 2026, sekitar pukul 13.00 WIB. Siang yang semula berjalan biasa mendadak berubah menjadi kepanikan. Api pertama kali dilihat oleh Yani, putri Ibu Masitoh, dari arah kamar rumah. Diduga akibat korsleting listrik, kobaran api dengan cepat membesar, melahap bangunan kayu semi permanen yang mudah terbakar, diperparah hembusan angin.
Warga sekitar bahu-membahu memadamkan api secara manual dengan peralatan seadanya sebelum bantuan pemadam kebakaran tiba. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun satu unit rumah mengalami rusak berat. Perabotan rumah tangga, satu unit sepeda motor, perhiasan, hingga dokumen penting seperti ijazah dan kartu keluarga hangus tak tersisa. Kerugian ditaksir mencapai Rp80 juta.
Kini, Masitoh bersama keluarganya—1 KK dengan 5 jiwa—terpaksa mengungsi ke rumah kerabat dan tetangga.
Potret Ketegaran Seorang Ibu
Di balik angka-angka kerugian itu, tersimpan kisah getir tentang perjuangan hidup. Ibu Masitoh adalah seorang janda yang bekerja sebagai buruh pengupas kulit kacang. Upahnya hanya Rp500 per kilogram. Dalam sehari, ia paling banyak mampu mengupas 30 kilogram, dengan penghasilan sekitar Rp15.000 per hari.
Penghasilan yang jauh dari kata cukup itu selama ini ia gunakan untuk menghidupi lima jiwa dalam keluarganya. Rumah sederhana yang kini menjadi abu adalah satu-satunya tempat berteduh yang ia miliki—hasil dari kerja keras dan ketekunan bertahun-tahun.
“Ini ujian yang sangat berat bagi Ibu Masitoh. Dengan penghasilan yang sangat terbatas, beliau harus kehilangan rumah dan seluruh harta bendanya dalam hitungan jam,” ujar Yudha Puja Turnawan dengan nada prihatin.
Kepedulian yang Hadir di Tengah Duka
Dalam kunjungannya, Yudha Puja Turnawan menyerahkan bantuan sembako serta santunan uang tunai dari dana pribadinya. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan beban kebutuhan darurat keluarga korban.
Namun lebih dari sekadar bantuan materi, kehadiran para pemangku kebijakan di tengah warga yang tertimpa musibah menjadi simbol bahwa mereka tidak sendiri. Bahwa ada tangan-tangan yang siap menopang ketika kehidupan terasa runtuh.
Yudha menegaskan bahwa penanganan bencana sosial tidak bisa dilakukan sendiri. Ia berharap adanya kolaborasi dan dukungan pendanaan dari Pemerintah Kabupaten Garut agar korban segera mendapatkan bantuan yang lebih komprehensif, termasuk kemungkinan bantuan pembangunan kembali rumah layak huni.
“Ini bukan hanya tentang membangun kembali rumah yang terbakar, tetapi tentang memulihkan harapan dan masa depan sebuah keluarga,” tegasnya.
Gotong Royong, Warisan yang Menyelamatkan
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa di tengah keterbatasan, nilai gotong royong masih hidup kuat di tengah masyarakat Garut. Warga yang sigap membantu memadamkan api dan memberi tempat tinggal sementara menjadi bukti bahwa solidaritas adalah kekuatan sejati bangsa ini.
Musibah memang tidak pernah diundang. Ia datang tiba-tiba, merenggut apa yang telah dibangun bertahun-tahun. Namun dari abu yang tersisa, selalu ada kesempatan untuk bangkit—asal ada kepedulian, kebersamaan, dan kebijakan yang berpihak kepada mereka yang paling rentan.
Di Kampung Sukatani, sebuah rumah mungkin telah hilang. Tetapi harapan belum padam. Selama masih ada tangan yang terulur dan hati yang peduli, kehidupan akan selalu menemukan jalan untuk kembali berdiri.(gilang)



