30.1 C
Garut
Senin, April 20, 2026

Buy now

Merajut Sinergi Kemanusiaan di “Swiss van Java”: Anggota DPRD dan Relawan Perkuat Mitigasi Bencana Garut

GARUT — Di balik keelokan alam yang membuatnya dijuluki “Swiss van Java”, Kabupaten Garut menyimpan potensi bencana yang tidak kecil. Letusan gunung api, banjir, longsor, pergerakan tanah hingga ancaman tsunami menjadi risiko nyata yang harus dihadapi dengan kesiapsiagaan kolektif. Kesadaran itulah yang mengemuka dalam Forum Silaturahmi Relawan Siaga Bencana se-Kabupaten Garut, Sabtu (14 Februari 2026), di Aula PGRI Kecamatan Tarogong Kidul.

Kegiatan yang diinisiasi Yayasan Reskina Bakti Nusantara ini menghadirkan Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Dadan Wandiansyah (Komisi II) dan Yudha Puja Turnawan (Komisi IV), sebagai narasumber. Forum tersebut menjadi ruang temu lintas organisasi, relawan kemanusiaan, unsur pemerintah daerah, hingga perwakilan lembaga keagamaan dan partai politik seperti PKS, Persis, dan Muhammadiyah, dalam satu semangat: menguatkan sinergisitas penanggulangan bencana.

Dadan Wandiansyah menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya forum tersebut. Menurutnya, tema penguatan sinergi dalam penanggulangan bencana sangat relevan dengan kondisi Garut yang memiliki kerentanan tinggi.

“Saya sangat senang mendapatkan undangan dari panitia. Tema yang diangkat luar biasa, yaitu menguatkan sinergisitas dalam penanggulangan bencana. Kegiatan ini bersifat kemanusiaan, tidak ada warna yang menonjol, tetapi semua unsur hadir dan berkolaborasi,” ujarnya.

Diskusi yang dikemas dalam format talkshow interaktif itu menghadirkan komunikasi dua arah antara legislatif, pemerintah daerah, dan relawan. Salah satu momen yang menginspirasi adalah kehadiran relawan senior berusia 70 tahun yang masih aktif di medan kemanusiaan. Dedikasi tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian sosial lahir dari nurani dan tidak dibatasi usia.

Dadan menegaskan, relawan merupakan kekuatan strategis dalam sistem kebencanaan daerah. Dengan luas wilayah Garut dan keterbatasan sumber daya manusia di BPBD, keberadaan relawan menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyampaikan edukasi dan informasi kebencanaan hingga ke pelosok.

“Penanganan saat bencana terjadi adalah langkah terakhir. Yang paling utama adalah mitigasi. Masyarakat harus memahami potensi bencana di wilayahnya dan tahu bagaimana cara menyelamatkan diri,” tegasnya.

Karena itu, DPRD mendorong BPBD Kabupaten Garut agar lebih masif melakukan edukasi melalui pelatihan, sosialisasi, dan simulasi kebencanaan yang menyasar seluruh lapisan masyarakat—mulai dari anak usia dini hingga masyarakat umum. Relawan, menurut Dadan, perlu diforumkan dan diperkuat agar pembinaan lebih terarah, koordinasi lebih cepat, serta arus informasi lebih efektif.

Sementara itu, Yudha Puja Turnawan dalam sambutannya menekankan pentingnya silaturahmi sebagai langkah strategis membangun ketahanan daerah. Ia mengapresiasi kehadiran berbagai elemen relawan yang selama ini aktif dalam mitigasi dan penanggulangan bencana di Garut.

Forum tersebut menghadirkan narasumber utama Abah “Soma Suparsa”, tokoh senior sekaligus Kepala Divisi Kemanusiaan Yayasan Wanadri yang telah malang melintang dalam misi kemanusiaan di berbagai wilayah Indonesia. Turut menjadi pemateri Dadan Wandiansyah serta Yanti Nurwanti, Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Garut.

Menurut Yudha, pengurangan risiko bencana harus menjadi arus utama dalam setiap kebijakan pembangunan daerah. Dalam setiap rapat bersama Pemerintah Kabupaten Garut, DPRD terus mendorong agar program pembangunan seluruh perangkat daerah memperhatikan aspek mitigasi—mulai dari pembangunan infrastruktur yang adaptif terhadap bencana hingga penguatan kapasitas masyarakat tangguh bencana.

“Kita juga mendorong agar dunia usaha dan masyarakat dilibatkan secara aktif dalam mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga rehabilitasi pascabencana. Kebencanaan bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, forum silaturahmi semacam ini penting sebagai ruang mendengar. Aspirasi dan pengalaman para relawan di lapangan perlu diagregasikan menjadi bahan perumusan kebijakan yang lebih responsif dan berbasis kebutuhan nyata.

Pada akhirnya, forum ini bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan pijakan untuk membangun kolaborasi yang solid antara pemerintah, relawan, dan masyarakat. Di tengah ancaman bencana yang selalu mengintai, Garut membutuhkan lebih dari sekadar respons cepat—ia membutuhkan kesiapsiagaan yang terencana, sinergi yang kuat, dan semangat kemanusiaan yang terus menyala.

Dari Tarogong Kidul, pesan itu bergema jelas: menjaga Garut berarti merawat solidaritas. Dan solidaritas, ketika dipertemukan dalam kerja nyata, adalah fondasi utama ketahanan daerah.

Bircunews

Kami Bircunews.com adalah perusahaan media. memberikan informasi berimbang, informatif, edukatif dan berpedoman terhadap undang-undang pers no 40 tahun 1999.Hubungi Kontak Kami untuk Iklan dan Pengaduan Keredaksian di Kontak WA: 082.295.693.903

Bircunewshttp://bircunews.com
Kami Bircunews.com adalah perusahaan media. memberikan informasi berimbang, informatif, edukatif dan berpedoman terhadap undang-undang pers no 40 tahun 1999.Hubungi Kontak Kami untuk Iklan dan Pengaduan Keredaksian di Kontak WA: 082.295.693.903

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -
- Advertisement -

Latest Articles

Bircunews

Kami Bircunews.com adalah perusahaan media. memberikan informasi berimbang, informatif, edukatif dan berpedoman terhadap undang-undang pers no 40 tahun 1999.Hubungi Kontak Kami untuk Iklan dan Pengaduan Keredaksian di Kontak WA: 082.295.693.903