GARUT – Malam itu, sekitar pukul 23.10 WIB, hidup Emak Emur berubah seketika. Rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat berlindung bersama cucunya, Ananda Sintia, hangus dilalap api.
Kebakaran tersebut terjadi di Kampung Ciingga RT 01 RW 05, Desa Sukawangi, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, pada Kamis, 10 September 2026.
Bagi Emak Emur, seorang lansia duafa, kehilangan rumah bukan sekadar kehilangan bangunan. Ia kehilangan tempat berteduh, ruang untuk menjalani hari-hari bersama cucunya, sekaligus rasa aman yang selama ini menjadi sandaran hidup mereka.
Kini, Emak Emur dan Ananda Sintia terpaksa mengungsi sementara di rumah kerabat yang masih berada di kampung yang sama.
Di tengah kondisi tersebut, perhatian dan kepedulian datang dari Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan. Pada Jumat, 11 September 2026, Yudha bersama Kepala Desa Sukawangi Dudu Rahman, kader PDI Perjuangan Singajaya Nedi, serta Pendamping Sosial Desa Sukawangi Cepi, menemui langsung Emak Emur dan Ananda Sintia.
Yudha tidak datang dengan tangan kosong. Ia memberikan bantuan secara pribadi berupa bingkisan sembako dan santunan uang tunai untuk meringankan beban keluarga tersebut.
“Untuk meringankan beban Emak Emur, saya memberikan bingkisan sembako dan santunan uang,” ujar Yudha.
Namun, menurut Yudha, persoalan yang dihadapi Emak Emur jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan rumah.
Pada tahun 2026 ini, Emak Emur juga harus menghadapi kenyataan bahwa sejumlah jaring pengaman sosial dari pemerintah pusat yang sebelumnya menjadi penopang kehidupan mereka sudah tidak lagi diterima. Di antaranya bantuan PKH lansia dan BPNT atau bantuan pangan.
Kondisi tersebut semakin berat karena Emak Emur masih harus merawat dan membiayai cucunya, Ananda Sintia, yang saat ini duduk di kelas 8A SMPN 2 Singajaya.
“Musibah ini sangat berat untuk Emak Emur. Bukan hanya kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan semua jaring pengaman pemerintah pusat seperti PKH lansia dan BPNT. Padahal Emak Emur masih harus merawat dan membiayai cucunya yang bersekolah,” kata Yudha.
Karena itu, Yudha berharap persoalan Emak Emur tidak berhenti pada bantuan sesaat. Menurutnya, yang paling mendesak saat ini adalah bagaimana memastikan Emak Emur dan cucunya dapat kembali memiliki tempat tinggal yang layak.
Keterbatasan anggaran pemerintah daerah, kata Yudha, tidak semestinya menjadi alasan untuk membiarkan warga duafa yang tertimpa musibah berjuang sendirian.
Ia meyakini masih ada banyak jalan yang dapat ditempuh jika seluruh kekuatan yang ada di Kabupaten Garut digerakkan bersama.
“Apakah Pemkab Garut bisa membantu Emak Emur dan Ananda Sintia memiliki tempat tinggal kembali? Tentu bisa jika Bupati Garut memiliki kebijakan membentuk forum TJSLP, kemudian mengarahkan CSR untuk membantu warga duafa yang kehilangan rumah seperti Emak Emur,” ujarnya.
Yudha juga mendorong agar Bupati Garut memberikan arahan kepada BAZNAS Garut supaya turut membantu perbaikan atau pembangunan kembali rumah Emak Emur.
Menurutnya, persoalan seperti ini membutuhkan keberpihakan dan kolaborasi. Pemerintah, lembaga sosial, dunia usaha, masyarakat, hingga para pemangku kepentingan harus bergandengan tangan agar musibah yang dialami warga miskin tidak berubah menjadi persoalan kemiskinan yang semakin panjang.
Sebagai wakil rakyat, Yudha juga berupaya membuka jalan melalui sektor pendidikan. Ia telah menghubungi Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Iwan Riswandi, untuk mendorong adanya solidaritas dari para ASN di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.
Harapannya sederhana, tetapi sangat berarti bagi Emak Emur dan Ananda Sintia: mereka bisa kembali memiliki rumah untuk berteduh dan menjalani kehidupan dengan lebih layak.
Tidak hanya itu, Yudha berharap ada asesmen dari Sentra Terpadu Pangudi Luhur sehingga Emak Emur dapat kembali memperoleh komponen jaring pengaman sosial dari Kementerian Sosial RI yang memang menjadi hak dan kebutuhan warga rentan.
Musibah yang menimpa Emak Emur menjadi pengingat bahwa kemiskinan sering kali membuat sebuah keluarga begitu rapuh ketika satu bencana datang. Ketika rumah terbakar, yang ikut terbakar bukan hanya kayu dan dinding, tetapi juga rasa aman, harapan, dan sebagian besar tumpuan hidup.
Karena itu, yang dibutuhkan Emak Emur dan Ananda Sintia bukan sekadar rasa iba. Mereka membutuhkan tangan-tangan yang benar-benar hadir, bantuan yang berkelanjutan, serta kebijakan yang mampu mengembalikan mereka pada kehidupan yang lebih layak.
Kini, harapan itu masih terbuka.
Dengan gotong royong dan kepedulian banyak pihak, rumah yang telah menjadi abu bukan berarti harapan juga harus ikut padam.
“Semoga kita bisa bahu-membahu membantu mencari solusi untuk Emak Emur dan cucunya, Ananda Sintia,” tutur Yudha.



