GARUT — Musibah menimpa pasangan lanjut usia, Abah Atang Kurnia dan Emak Jumariah, setelah rumah yang mereka tempati ambruk pada Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 20.00 WIB.
Peristiwa tersebut terjadi di Kampung Ciputat, RT 03/RW 01, Desa Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut. Saat bangunan ambruk, keduanya masih berada di dalam rumah hingga mengalami cedera akibat tertimpa material bangunan.
Anggota DPRD Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, mendatangi kediaman pasangan lansia tersebut pada Selasa (8/9/2026). Ia datang untuk melihat langsung kondisi Abah Atang dan Emak Jumariah sekaligus memberikan bantuan.
Yudha menerangkan, “Ketika ambruk abah atang dan emak jumariah sedang berada di rumah, sehingga keduanya mengalami cedera di kepala dan di kaki. Abah atang menggunakan badannya agar emak jumariah terlindungi dari reruntuhan bangunan,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Yudha didampingi Camat Bungbulang Benni Yandiana, Kepala Desa Bojong Atep Sumiarsa Bakri, serta Suhyani, kader PDI Perjuangan di Kecamatan Bungbulang.
Selain memastikan kondisi korban, Yudha juga menyerahkan bingkisan sembako dan santunan uang kepada keluarga. Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan kebutuhan keluarga setelah kehilangan tempat tinggal akibat musibah.
“Selaku wakil rakyat saya memberikan bingkisan sembako dan santunan uang untuk meringankan beban keluarga yang terkena musibah,” ujar Yudha.
Yudha menilai persoalan bantuan bagi warga yang rumahnya ambruk maupun terbakar perlu mendapat perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten Garut. Menurutnya, jumlah rumah yang mengalami kerusakan sepanjang 2026 jauh lebih besar dibandingkan kemampuan anggaran pemerintah daerah untuk memberikan bantuan bahan bangunan.
Lebih jauh Yudha menerangkan, Dari 490 rumah yang rubuh dan kebakaran sepanjang tahun 2026 hanya 71 rumah yang mendapatkan bantuan bahan bangunan dari disperkim garut, karena alokasi anggaran hanya 500 juta rupiah di tahun 2026 ini. 419 rumah belum mendapatkan bantuan bahan bangunan dari Pemkab Garut.
Kondisi tersebut, kata Yudha, menunjukkan masih adanya ratusan keluarga yang harus menghadapi dampak musibah dengan keterbatasan bantuan dari pemerintah daerah.
Karena itu, ia mendorong adanya skema bantuan yang melibatkan lebih banyak pihak, termasuk badan usaha melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan.
“Oleh karena itu saya meminta agar bupati garut segera membentuk forum TJSLP agar dana CSR berbagai badan usaha skala besar bisa diarahkan untuk membantu warga garut yang terkena musibah,” ujar Yudha.
Tak hanya mengandalkan anggaran pemerintah daerah, Yudha juga meminta lembaga filantropi daerah turut mengambil peran dalam membantu warga yang kehilangan tempat tinggal.
“Saya juga meminta bupati garut untuk mengarahkan BAZNAS Garut membantu warga garut yang kehilangan rumah baik karena rubuh maupun karena kebakaran,” katanya.
Menurut Yudha, penanganan warga terdampak bencana rumah ambruk dan kebakaran tidak cukup hanya dilakukan melalui bantuan darurat. Diperlukan sebuah sistem yang memungkinkan warga korban musibah memperoleh bantuan perbaikan atau pembangunan kembali rumah secara lebih berkelanjutan.
Yudha menyarankan, bupati garut harus membuat ekosistem agar warga yang mendapatkan musibah rumahnya ambruk dan kebakaran mendapatkan bantuan perbaikan rumah.
Bagi Abah Atang dan Emak Jumariah, perhatian dan bantuan yang datang setelah musibah tersebut setidaknya menjadi penguat di tengah kondisi sulit yang mereka hadapi. Di usia senja, keduanya kini harus menghadapi persoalan tempat tinggal setelah rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung mereka ambruk.(Pey)



