GARUT — Kelangkaan gas LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram dikeluhkan masyarakat di sejumlah wilayah Kabupaten Garut. Menyikapi hal tersebut, Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Pasar Andir, Kecamatan Bayongbong, pada Jumat (13/3).
Sidak dilakukan setelah pemerintah daerah menerima banyak laporan dari masyarakat mengenai sulitnya memperoleh gas LPG 3 kilogram serta kenaikan harga di tingkat pengecer.
Putri Karlina mengatakan, informasi mengenai kelangkaan LPG awalnya ia ketahui dari berbagai keluhan yang beredar di media sosial. Banyak warga menyebut kondisi di Pasar Andir Bayongbong mengalami kelangkaan gas, sehingga ia memutuskan melakukan pengecekan langsung ke lokasi.
” Saya mengonfirmasi gas ya, karena kan melihat di media sosial, temanya adalah kelangkaan gas. Terus, memang kemarin tadinya kita mau di Pasar Kadungora ya? Hari ini. Cuman karena saya baca komentar menyebut Pasar Andir, jadi saya ke sini,” ujarnya.
Dalam dialog dengan sejumlah pangkalan dan pedagang di pasar tersebut, Putri Karlina mengakui bahwa gas LPG 3 kilogram memang sulit ditemukan oleh masyarakat di lapangan.
” Nah ternyata kan betul, tadi bagus ada yang curhatnya cukup lengkap tuh Pangkalan. Intinya mah kita semua harus sama-sama punya peran. Tadi kita udah telepon dari SBM tuh kayak macam pusatnya lah ya. Naaah, untuk Garut, suplay ternyata tidak langka. Traffic juga tidak terlalu tinggi, tidak signifikan gitu. Dan ini sudah belajar dari pola-pola tahun lalu sebenarnya ya segitu-gitu aja. Cuman kalau tadi juga disambungin sama curhatannya orang Pangkalan, banyak nih yang dagang di warung. Nah jadi yang komentar juga sebenarnya belinya mungkin di warung. Jadi harganya bisa melambung ke 25 ribu, 30ribu, which is itu tuh hampir dua kali lipat dari harga HET nya,” ujarnya.
Di sisi lain, berdasarkan informasi dari pihak penyuplai wilayah Garut, stok LPG 3 kilogram sebenarnya tidak mengalami kelangkaan. Namun, lonjakan harga diduga dipicu oleh praktik penjualan kembali di tingkat warung atau pengecer kecil.
Putri Karlina pun mengimbau masyarakat agar membeli gas LPG langsung di pangkalan resmi guna menghindari harga yang melambung jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).
” Jadi, disarankan untuk semua masyarakat, satu beli di Pangkalan. Tapi kan kalau di Pangkalan habis, kita menghimbau buat mereka yang mencoba menimbun, bukan menimbunnya bukan dalam jumlah besar. Menimbunnya di warung-warung. Lima biji, dari lima biji warung ada sepuluh, udah lima puluh keluar. Gitu. Nah, memang sih sekarang lagi ya mungkin orang mau cari duit dengan cara apapun gitu ya tapi bagaimanapun pemerintah harus berpihak pada masyarakat,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Garut berencana memperkuat pengawasan distribusi LPG melalui koordinasi lintas instansi.
Putri Karlina menyatakan telah meminta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Garut untuk segera melakukan konsolidasi dengan agen distribusi, Hiswana Migas, serta pihak penyuplai guna memantau kondisi di lapangan.
” Sekarang keluhannya gas naik makanya tadi saya minta Pak Indag konsolidasi baik ke agen, terus ke Hiswana, ke SBM-nya langsung, Inspektorat nanti akan bantu untuk apa, kolaborasi lintas instansi buat melakukan, semacam sidak, kontrol, satgas ya walaupun waktunya mepet sekali cuman kita upayakan yang terbaik,” katanya. (Pey)



