31.2 C
Garut
Kamis, November 5, 2026

Buy now

Rumah Nyaris Ambruk, Janda Dhuafa di Cikajang Bertahan Bersama Empat Anak, Yudha Puja Turnawan Desak Pemkab Garut Hadirkan Solusi

GARUT – Di balik dinding rumah sederhana yang mulai rapuh, seorang janda dhuafa bernama Ibu An-An harus berjuang mempertahankan kehidupan bersama keempat anaknya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru menyimpan ancaman keselamatan. Atapnya nyaris ambruk, lantainya telah hancur, sementara kebocoran terjadi hampir di setiap sudut ketika hujan turun.

Kondisi memprihatinkan tersebut menjadi perhatian Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan. Pada Kamis (5/11/2026), ia turun langsung mengunjungi kediaman Ibu An-An di Kampung Sukamukti (Kiara Rambai), RT 05 RW 09, Desa Cibodas, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut.

Dalam kunjungan tersebut, Yudha memberikan bantuan sembako dan santunan uang tunai dari dana pribadinya sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga yang tengah menghadapi kesulitan hidup.

Yudha mengungkapkan, kondisi rumah yang ditempati Ibu An-An bersama keempat anaknya sudah sangat mengkhawatirkan. Sejumlah bagian konstruksi kayu pada atap rumah mengalami kerusakan parah. Mulai dari kuda-kuda, gording, usuk hingga reng, banyak yang patah dan tidak lagi mampu menopang beban atap secara normal.

Ironisnya, agar atap rumah tidak sewaktu-waktu ambruk, sejumlah bagian konstruksi tersebut terpaksa ditopang menggunakan bambu yang dipasang di berbagai sudut rumah.

“Ini tentu sangat membahayakan keselamatan Ibu An-An dan keempat anaknya. Mereka setiap hari harus tinggal dalam kondisi rumah yang sewaktu-waktu berpotensi mengalami kerusakan lebih parah,” ungkap Yudha.

Tidak hanya bagian atap, kondisi lantai rumah yang terbuat dari papan kayu juga sudah hancur, terutama di bagian dapur dan kamar. Ketika hujan turun, air masuk melalui berbagai bagian atap sehingga hampir seluruh sudut rumah mengalami kebocoran.

Berawal dari Pesan TikTok, Berujung pada Peninjauan Langsung

Kepedulian terhadap kondisi Ibu An-An bermula dari sebuah pesan di media sosial. Yudha menceritakan, pada Rabu malam (4/11/2026), sekitar pukul 23.21 WIB, dirinya menerima pesan langsung atau DM melalui TikTok dari Muhammad Azis, salah seorang kerabat Ibu An-An.

Pesan tersebut mengabarkan kondisi rumah Ibu An-An yang mengalami kerusakan serius dan membutuhkan perhatian serta bantuan segera.

Menindaklanjuti informasi tersebut, keesokan harinya Yudha bersama Pusdalops BPBD Kabupaten Garut, Tagana Dinas Sosial Kabupaten Garut, Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Garut, unsur Pemerintah Kecamatan Cikajang, Pemerintah Desa Cibodas, serta jajaran PAC PDI Perjuangan Cikajang mendatangi lokasi untuk melihat langsung kondisi keluarga tersebut.

Perjuangan hidup Ibu An-An ternyata tidak kalah memprihatinkan dibandingkan kondisi rumah yang ditempatinya.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama keempat anaknya, Ibu An-An bekerja sebagai buruh tani dengan upah hanya sekitar Rp25 ribu. Bahkan, saat rombongan tiba di rumahnya, Ibu An-An harus terlebih dahulu dijemput dari lokasi perkebunan di Desa Sukawargi, Kecamatan Cisurupan, tempat ia sedang bekerja.

Dengan penghasilan yang sangat terbatas, jangankan memperbaiki rumah, memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari pun menjadi perjuangan tersendiri.

Dalam kesempatan tersebut, DKP Kabupaten Garut memberikan bantuan sembako. Sementara BPBD Kabupaten Garut menyalurkan bantuan berupa selimut, terpal, dan family kit. Yudha juga menyerahkan bingkisan sembako serta santunan uang tunai dari dana pribadinya.

Terkendala Administrasi, Usulan Bantuan Rutilahu Belum Terealisasi

Di balik kondisi rumah yang memprihatinkan, terdapat persoalan administrasi yang selama ini menjadi salah satu penghambat Ibu An-An untuk mendapatkan bantuan perbaikan rumah.

Menurut keterangan Pemerintah Desa Cibodas, pihak desa sebenarnya sudah berulang kali mengusulkan agar Ibu An-An memperoleh bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dari Pemerintah Kabupaten Garut. Namun, hingga kini bantuan tersebut belum juga terealisasi.

Setelah menelusuri persoalan tersebut, Yudha menemukan bahwa Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) rumah yang ditempati Ibu An-An masih tercatat atas nama almarhumah ibunya.

Kondisi administrasi tersebut menjadi kendala dalam proses pengusulan Ibu An-An sebagai penerima manfaat program bantuan Rutilahu, baik yang bersumber dari APBN maupun APBD.

Menanggapi persoalan itu, Yudha telah meminta Pemerintah Kecamatan Cikajang untuk membantu memfasilitasi proses perubahan nama SPPT melalui Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Garut.

Menurutnya, persoalan administrasi perlu segera diselesaikan agar warga miskin yang benar-benar membutuhkan tidak terus terhambat dalam mengakses program bantuan pemerintah.

Yudha Dorong Forum TJSLP dan BAZNAS Hadir Membantu

Lebih jauh, Yudha menilai persoalan yang dialami Ibu An-An menjadi gambaran bahwa masih ada masyarakat kurang mampu yang membutuhkan perhatian serius dan langkah nyata dari berbagai pihak.

Ia menegaskan, penanganan rumah tidak layak huni tidak bisa hanya mengandalkan kemampuan pemerintah melalui program reguler. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga sosial, dan masyarakat agar warga yang membutuhkan dapat segera memperoleh bantuan.

Karena itu, Yudha mendorong Bupati Garut agar segera membentuk dan mengoptimalkan Forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP), sehingga dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan dapat diarahkan untuk membantu masyarakat dhuafa, termasuk keluarga Ibu An-An.

Selain itu, ia juga berharap Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Garut dapat mengambil peran dalam membantu penyelesaian persoalan rumah tidak layak huni tersebut.

“Menjadi sangat penting bagi Bupati Garut untuk segera membentuk Forum TJSLP agar dana CSR perusahaan bisa dioptimalkan untuk membantu masyarakat dhuafa seperti Ibu An-An. Begitu juga BAZNAS Garut, saya berharap dapat hadir menjadi bagian dari solusi,” tegasnya.

Bagi Ibu An-An dan keempat anaknya, rumah bukan sekadar bangunan untuk berteduh. Rumah adalah tempat mereka menggantungkan harapan di tengah keterbatasan hidup. Namun, ketika tempat berlindung itu justru terancam ambruk, kehadiran negara dan kepedulian berbagai pihak menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan.

Kini, harapan agar rumah Ibu An-An kembali layak dan aman untuk dihuni berada pada tindak lanjut nyata pemerintah daerah serta kolaborasi seluruh pihak yang memiliki kepedulian sosial.

Bircunews

Kami Bircunews.com adalah perusahaan media. memberikan informasi berimbang, informatif, edukatif dan berpedoman terhadap undang-undang pers no 40 tahun 1999.Hubungi Kontak Kami untuk Iklan dan Pengaduan Keredaksian di Kontak WA: 082.295.693.903

Bircunewshttp://bircunews.com
Kami Bircunews.com adalah perusahaan media. memberikan informasi berimbang, informatif, edukatif dan berpedoman terhadap undang-undang pers no 40 tahun 1999.Hubungi Kontak Kami untuk Iklan dan Pengaduan Keredaksian di Kontak WA: 082.295.693.903

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -
- Advertisement -

Latest Articles

Bircunews

Kami Bircunews.com adalah perusahaan media. memberikan informasi berimbang, informatif, edukatif dan berpedoman terhadap undang-undang pers no 40 tahun 1999.Hubungi Kontak Kami untuk Iklan dan Pengaduan Keredaksian di Kontak WA: 082.295.693.903