32.4 C
Garut
Senin, Oktober 19, 2026

Buy now

Rumah Nyaris Roboh, Kepedulian Tak Boleh Runtuh: Yudha Puja Turnawan Ajak Warga dan Dunia Usaha Bantu Janda Lansia di Garut

GARUT — Di sebuah rumah sederhana di Kampung Loji Nomor 172, RT 03 RW 02, Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, ada kecemasan yang mengintai setiap kali hujan turun. Atap yang bocor, bagian bangunan yang mulai ambruk, serta dinding yang rapuh membuat rumah itu tak lagi memberikan rasa aman bagi penghuninya, seorang janda lanjut usia dari keluarga dhuafa, E Fatimah.

Kondisi memprihatinkan tersebut mendapat perhatian Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan. Pada Senin, 19 Oktober 2026, ia mengunjungi kediaman E Fatimah bersama Kepala Kelurahan Pakuwon, Agus Kusnandi, dan Ketua RW 02, Uun, untuk melihat langsung kondisi rumah sekaligus membicarakan langkah penanganan yang dapat segera dilakukan.

Kunjungan itu bukan sekadar menyaksikan kerusakan sebuah bangunan. Lebih dari itu, ada ikhtiar untuk memastikan seorang lansia yang hidup dalam keterbatasan tidak harus menghadapi ancaman keselamatan seorang diri di rumahnya sendiri.

“Rumah Ibu E Fatimah ini kondisinya sangat memprihatinkan. Atapnya sudah banyak yang bocor, beberapa bagian bangunannya sudah ambruk, dan ketika hujan turun, air masuk dari berbagai sudut rumah,” ujar Yudha.

Bagi sebagian orang, atap bocor mungkin hanya persoalan kenyamanan. Namun, bagi seorang janda lansia yang hidup dalam keterbatasan ekonomi, kerusakan rumah dapat menjadi persoalan keselamatan yang tidak bisa ditunda. Terlebih, musim penghujan diperkirakan datang pada November dan Desember, sehingga perbaikan rumah menjadi kebutuhan mendesak.

Ketika Data Sosial Menentukan Akses Bantuan

Di balik kondisi rumah yang nyaris roboh, terdapat persoalan lain yang selama ini menghambat Fatimah memperoleh bantuan perbaikan rumah tidak layak huni (Rutilahu), yakni status desil kesejahteraannya.

Menurut Yudha, sebelumnya Fatimah tercatat dalam kelompok desil tinggi sehingga mengalami kendala dalam mengakses bantuan Rutilahu. Setelah pemerintah Kelurahan Pakuwon mengusulkan pembaruan data, statusnya kini telah berubah menjadi desil satu.

Perubahan tersebut menjadi langkah penting agar kondisi sosial ekonomi Fatimah dapat lebih sesuai dengan data yang menjadi salah satu dasar penentuan sasaran bantuan.

Kisah ini sekaligus mengingatkan bahwa di balik data administrasi, ada kehidupan nyata yang membutuhkan perhatian. Ketepatan pendataan menjadi penting agar warga yang benar-benar membutuhkan tidak luput dari jangkauan program perlindungan sosial.

Gotong Royong Menjadi Jalan Pertama

Melihat kondisi rumah yang membutuhkan penanganan segera, Yudha bersama pemerintah kelurahan dan pengurus RW membicarakan upaya perbaikan yang dapat dilakukan tanpa harus menunggu seluruh persoalan pendanaan terselesaikan.

Hasil musyawarah tersebut mengarah pada penguatan gotong royong warga. Pengurus RW akan mendorong partisipasi masyarakat untuk bersama-sama memperbaiki bagian atap rumah Fatimah, dengan dukungan Pemerintah Kelurahan Pakuwon.

“Alhamdulillah, dari pihak RW akan memperkuat kegotongroyongan warga untuk segera memperbaiki bagian atap rumah Ibu E Fatimah bersama Pemerintah Kelurahan Pakuwon,” kata Yudha.

Dalam kunjungan tersebut, Yudha juga menyerahkan bingkisan sembako dan menitipkan santunan uang melalui Ketua RW untuk membantu kebutuhan awal perbaikan rumah.

Bantuan itu mungkin belum mampu menyelesaikan seluruh kerusakan. Namun, di tengah kondisi yang mendesak, langkah kecil yang dilakukan bersama dapat menjadi awal bagi hadirnya pertolongan yang lebih besar.

Menggandeng CSR, Baznas, dan Dunia Usaha

Yudha menyadari bahwa memperbaiki rumah yang kondisinya telah mengalami kerusakan cukup parah membutuhkan dukungan pendanaan yang tidak sedikit. Karena itu, ia berupaya membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak.

Ia mengungkapkan telah berkomunikasi dengan BPR Garut. Ia berharap lembaga tersebut dapat turut membantu melalui alokasi dana tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) untuk mendukung perbaikan rumah Fatimah.

Menurutnya, persoalan rumah tidak layak huni yang dialami warga miskin tidak seharusnya hanya dibebankan kepada pemerintah. Perlu ada keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, masyarakat, lembaga filantropi, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), hingga dunia usaha.

“Persoalan seperti ini membutuhkan kolaborasi pendanaan dari CSR, Baznas, dan lembaga filantropi lainnya. Karena itu, saya berharap Bapak Bupati Garut segera membentuk forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (TJSLP) atau forum CSR perusahaan agar bantuan dari dunia usaha dapat lebih terkoordinasi dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” ungkapnya.

Yudha juga mendorong Pemerintah Kelurahan Pakuwon untuk mengajak perusahaan dan pelaku usaha berskala besar di wilayahnya agar ikut mengambil bagian dalam upaya kemanusiaan tersebut.

Ia menyebut Ciplaz dan Hotel Mercure sebagai entitas usaha yang diharapkan dapat berpartisipasi, mengingat lokasinya tidak jauh dari rumah Fatimah.

Menurut Yudha, keberadaan perusahaan besar di suatu wilayah semestinya dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat di sekitarnya. Kontribusi dunia usaha melalui program CSR dapat menjadi salah satu jembatan untuk membantu menyelesaikan persoalan warga yang membutuhkan pertolongan mendesak.

Sebelum Hujan Datang, Kepedulian Harus Bergerak

Bagi Fatimah, waktu menjadi hal yang sangat berharga. Rumah yang atapnya bocor dan sebagian bangunannya telah ambruk tidak bisa dibiarkan terlalu lama, terlebih ketika musim penghujan semakin dekat.

Perbaikan rumah tersebut membutuhkan langkah nyata dan kerja bersama. Gotong royong warga dapat menjadi pijakan awal, sedangkan dukungan pemerintah, lembaga filantropi, dan dunia usaha diharapkan mampu melengkapi kebutuhan pendanaan.

Pada akhirnya, persoalan rumah Fatimah bukan semata-mata tentang memperbaiki atap atau menguatkan dinding yang rapuh. Ini juga tentang bagaimana sebuah lingkungan memastikan bahwa warga lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan tetap mendapatkan perlindungan, perhatian, dan kesempatan untuk menjalani hari-hari dengan lebih aman.

Kepedulian tidak cukup berhenti pada kunjungan, simpati, ataupun janji bantuan. Kepedulian harus diterjemahkan menjadi tindakan yang nyata, terkoordinasi, dan tepat waktu.

Sebab, ketika hujan datang, yang dibutuhkan Fatimah bukan sekadar harapan agar rumahnya tetap berdiri. Ia membutuhkan rumah yang benar-benar aman untuk ditinggali.

Dan sebelum hujan itu tiba, gotong royong serta kolaborasi semua pihak harus lebih dahulu hadir.(Feri/ Gilang)

Bircunews

Kami Bircunews.com adalah perusahaan media. memberikan informasi berimbang, informatif, edukatif dan berpedoman terhadap undang-undang pers no 40 tahun 1999.Hubungi Kontak Kami untuk Iklan dan Pengaduan Keredaksian di Kontak WA: 082.295.693.903

Bircunewshttp://bircunews.com
Kami Bircunews.com adalah perusahaan media. memberikan informasi berimbang, informatif, edukatif dan berpedoman terhadap undang-undang pers no 40 tahun 1999.Hubungi Kontak Kami untuk Iklan dan Pengaduan Keredaksian di Kontak WA: 082.295.693.903

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -
- Advertisement -

Latest Articles

Bircunews

Kami Bircunews.com adalah perusahaan media. memberikan informasi berimbang, informatif, edukatif dan berpedoman terhadap undang-undang pers no 40 tahun 1999.Hubungi Kontak Kami untuk Iklan dan Pengaduan Keredaksian di Kontak WA: 082.295.693.903