GARUT — Di tengah keterbatasan ekonomi, Ibu Ida Rosita, warga Kampung Sukatani RT 08 RW 03, Desa Sukatani, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, harus bertahan hidup bersama keluarganya di sebuah rumah yang kondisinya sangat memprihatinkan.
Bangunan rumah yang ditempatinya sudah dalam kondisi miring dan sebagian hanya ditahan oleh bambu. Pondasinya pun terlihat mengalami kemiringan. Kondisi tersebut membuat rumah itu sewaktu-waktu berpotensi roboh, terutama ketika hujan deras melanda.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan. Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, Yudha datang langsung menengok kondisi Ibu Ida sekaligus memberikan bantuan sembako dan santunan uang tunai dari uang pribadinya.
Dalam kunjungan tersebut, Yudha didampingi Pusdalops BPBD Garut, pendamping sosial, Kepala Desa Sukatani Naim Pirmansya, serta Satgas PDI Perjuangan Kecamatan Cisurupan.
“Sabtu 3 Oktober 2026 saya bersama Pusdalops BPBD Garut, pendamping sosial, Kepala Desa Sukatani Kecamatan Cisurupan Naim Pirmansya, dan Satgas PDI Perjuangan Kecamatan Cisurupan menengok Ibu Ida Rosita di Kampung Sukatani,” ujar Yudha.
Menurut Yudha, kondisi rumah yang ditempati Ibu Ida sudah masuk kategori sangat tidak layak huni dan membahayakan keselamatan penghuninya.
“Rumahnya sangat tidak layak huni. Posisi rumah sudah miring dan hanya ditahan oleh bambu. Kondisi bangunan sudah sangat miring dan dikhawatirkan apabila hujan lebat bisa sewaktu-waktu roboh,” katanya.
Ia menilai persoalan tersebut tidak cukup hanya ditangani dengan bantuan kebutuhan sehari-hari. Yang paling mendesak bagi Ibu Ida dan keluarganya adalah adanya pembangunan rumah yang layak dan aman untuk ditempati.
Karena itu, Yudha mendorong adanya kolaborasi lintas pihak, mulai dari Pemerintah Kabupaten Garut, dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), hingga BAZNAS Garut.
“Harapan saya Pemkab Garut mengoptimalkan kolaborasi pendanaan CSR, baik dari berbagai entitas usaha maupun BAZNAS Garut,” ujarnya.
Selain itu, Yudha berharap kondisi Ibu Ida dapat segera mendapatkan asesmen dari Sentra Terpadu Pangudi Luhur. Menurutnya, asesmen tersebut penting agar kebutuhan bantuan dapat dipetakan dan kemudian menjadi dasar rekomendasi kepada pemerintah pusat.
Ia berharap hasil asesmen nantinya dapat membuka akses bantuan dari Kementerian Sosial RI, khususnya melalui program yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat miskin dan rentan. Bantuan juga diharapkan dapat diarahkan kepada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman agar Ibu Ida memperoleh bantuan rumah tidak layak huni (Rutilahu).
“Harapannya nanti ketika ada asesmen bisa direkomendasikan kepada Kementerian Sosial, maupun kepada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman agar Ibu Ida Rosita mendapat bantuan Rutilahu. Ini harus segera karena kondisi rumahnya membahayakan penghuninya,” kata Yudha.
Yudha juga meminta BPBD Garut melakukan asesmen terhadap kondisi rumah tersebut dan melaporkannya kepada Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Garut. Ia berharap kondisi rumah Ibu Ida dapat menjadi salah satu prioritas dalam penanganan rumah tidak layak huni.
“Harapan saya ada asesmen dari BPBD Garut dan dilaporkan juga ke Disperkim Garut supaya menjadi prioritas untuk mendapatkan bantuan Rutilahu,” tuturnya.
Bagi Yudha, bantuan yang diberikan pada kunjungannya kali ini hanyalah langkah awal. Ia membawa bingkisan sembako dan santunan uang tunai untuk meringankan kebutuhan Ibu Ida. BPBD Garut juga turut memberikan bantuan.
Namun, ia menyadari bahwa kebutuhan utama keluarga tersebut jauh lebih besar.
“Hari ini saya menengok, sedikit memberikan bingkisan sembako dan santunan uang tunai. Dari BPBD Garut juga ada bantuan. Tetapi tentunya yang dibutuhkan Ibu Ida adalah pembangunan rumahnya,” ujar Yudha.
Di balik kondisi rumah yang nyaris roboh, terdapat persoalan ekonomi yang membuat Ibu Ida kesulitan memperbaikinya secara mandiri.
Ibu Ida merupakan ibu dari tiga anak. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia bekerja sebagai buruh tani dengan upah sekitar Rp30 ribu per hari. Itu pun hanya ketika ada orang yang membutuhkan tenaganya.
Dengan penghasilan yang tidak tetap dan jumlah yang terbatas tersebut, menyisihkan uang untuk memperbaiki rumah menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.
Kondisi Ibu Ida menjadi gambaran bahwa persoalan rumah tidak layak huni tidak selalu berdiri sendiri. Di balik sebuah rumah yang hampir roboh, ada keterbatasan ekonomi, tanggungan keluarga, serta kebutuhan akan perhatian dan kepedulian bersama.
Karena itu, Yudha berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada kunjungan dan bantuan sesaat. Ia mengajak berbagai pihak untuk bergandengan tangan mencari jalan keluar agar Ibu Ida dan ketiga anaknya dapat tinggal di rumah yang aman dan layak.
“Semoga kita bahu-membahu mencari solusi dari berbagai pihak,” pungkasnya.(Gilang)

