GARUT – Ratusan warga dari berbagai elemen masyarakat memadati kawasan depan Gedung Bupati Garut, Senin (22/6/2026). Mereka datang bukan untuk menolak kebijakan pemerintah, melainkan membawa satu pesan tegas: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus terus dilanjutkan, diperbaiki, dan dijaga dari praktik korupsi.
Sejak pukul 08.00 WIB, massa telah berkumpul di Simpang Lima Garut sebelum bergerak secara tertib menuju pusat pemerintahan daerah. Dengan membawa spanduk, poster, serta berbagai pesan moral, mereka menyuarakan harapan agar program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat kecil itu tidak kehilangan arah.
Bagi banyak warga, MBG bukan sekadar program pemerintah. Program ini telah menjadi harapan baru bagi keluarga kurang mampu, terutama dalam membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak dan meringankan beban ekonomi rumah tangga.
Di tengah aksi damai tersebut, para peserta menyampaikan tujuh tuntutan utama kepada pemerintah. Mereka mendesak agar Program MBG tetap dipertahankan, dugaan penyimpangan dan korupsi diusut hingga tuntas, kualitas pelaksanaan program diperbaiki, mutu menu makanan ditingkatkan, pelaku korupsi dihukum tanpa pandang bulu, manfaat program dipastikan tepat sasaran bagi masyarakat kecil, serta pengawasan terhadap dapur penyedia MBG diperketat.
Koordinator aksi, Restik, menegaskan bahwa kehadiran masyarakat merupakan bentuk kepedulian sekaligus partisipasi aktif dalam mengawal program strategis pemerintah.
“Kami hadir bukan untuk menentang program ini. Justru kami ingin memastikan MBG berjalan sesuai tujuan awalnya, yakni membantu rakyat. Program yang baik harus dijaga bersama agar tidak disalahgunakan oleh oknum yang hanya mengejar keuntungan pribadi,” ujar Restik dalam orasinya.
Ia menambahkan, pemerintah perlu memperkuat sistem pengawasan dan evaluasi agar setiap anggaran yang dialokasikan benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak menerima manfaat.
Menurutnya, korupsi dalam program sosial merupakan bentuk pengkhianatan terhadap rakyat kecil. Karena itu, masyarakat mendesak agar setiap dugaan penyimpangan diusut secara transparan dan pelakunya dihukum secara tegas.
Menariknya, aksi tersebut lahir dari semangat gotong royong. Sejumlah warga bahkan secara sukarela melakukan patungan untuk mendukung kebutuhan kegiatan. Hal itu menjadi cerminan bahwa masyarakat memiliki rasa memiliki terhadap Program MBG dan ingin memastikan keberlangsungannya tetap terjaga.
Sepanjang aksi berlangsung, suasana tetap kondusif di bawah pengawalan aparat keamanan. Berbagai poster bertuliskan “Selamatkan MBG”, “Berantas Korupsi Sampai Tuntas”, dan “Jangan Biarkan Rakyat Menjadi Korban” tampak menghiasi lokasi aksi.
Gelombang aspirasi yang muncul di Garut ini menjadi pesan kuat bahwa masyarakat tidak hanya menginginkan keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis, tetapi juga menuntut tata kelola yang bersih, transparan, dan berpihak kepada rakyat.
Di tengah tantangan pelaksanaan program nasional, suara warga Garut mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan juga oleh integritas, pengawasan, dan komitmen bersama untuk memastikan setiap manfaat benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Satu suara pun menggema dari jalanan Garut: “Pertahankan MBG, Perangi Korupsi, dan Pastikan Rakyat Tetap Terlindungi.”(Gilang)

