Site icon Bircunews

Dari Madrasah Swasta di Bayongbong, Alisha Fahira Harumkan Nama Garut Lewat Puisi

GARUT – Dari sebuah madrasah swasta di pelosok Kecamatan Bayongbong, sebuah suara kecil berhasil menembus panggung kompetisi tingkat Kabupaten Garut. Suara itu milik Alisha Fahira, siswi kelas IV MIS Namiatusibyan, Kampung Harempoy, Desa Karyajaya.

Dengan keberanian, penghayatan, dan kemampuan merangkai kata, Alisha berhasil meraih Juara II tingkat Kabupaten Garut dalam lomba puisi pada ajang Pekan Olahraga dan Seni (Porseni).

Prestasi tersebut bukan sekadar deretan kata dalam daftar pemenang. Bagi keluarga besar MIS Namiatusibyan, capaian Alisha menjadi bukti bahwa bakat dan keberanian untuk berprestasi dapat tumbuh dari mana saja, termasuk dari madrasah swasta yang berada jauh dari hiruk-pikuk pusat perkotaan.

Putri dari Acep Malwa itu mampu menunjukkan bahwa panggung prestasi tidak mengenal batas antara sekolah negeri maupun swasta. Ketika kesempatan terbuka dan bakat mendapatkan ruang untuk berkembang, seorang anak dapat tampil percaya diri dan bersaing dengan peserta terbaik lainnya.

Di atas panggung, puisi bagi Alisha bukan hanya sekumpulan kalimat yang dibacakan. Ada ekspresi, penghayatan, keberanian, sekaligus proses belajar yang harus dilalui. Setiap kata menjadi cara bagi Alisha untuk menyampaikan pesan, sementara setiap gerak dan intonasi menjadi bagian dari perjuangannya meraih prestasi.

Bagi seorang anak yang masih duduk di kelas IV, keberanian tampil dalam sebuah kompetisi tingkat kabupaten tentu bukan hal sederhana. Namun, Alisha membuktikan bahwa usia bukan penghalang untuk mulai bermimpi dan berprestasi.

Guru MIS Namiatusibyan, Risma Siti Humaidiyyah, Selasa (11/8/2026), mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian yang diraih Alisha. Menurutnya, prestasi tersebut menjadi energi positif bagi sekolah untuk semakin serius memberikan ruang kepada setiap siswa dalam menemukan dan mengembangkan bakatnya.

“Alhamdulillah, kami sangat bangga dengan prestasi Alisha. Ini menjadi bukti bahwa anak-anak dari sekolah swasta berbasis madrasah juga siap berkarya dan berkompetisi untuk mengharumkan nama Kabupaten Garut,” ujar Risma.

Menurut Risma, keberhasilan Alisha semestinya tidak berhenti pada sebuah piala. Justru, penghargaan tersebut harus menjadi titik awal untuk menumbuhkan kepercayaan diri dan semangat belajar yang lebih besar.

Ia berharap Alisha terus berlatih, berani mengikuti berbagai kompetisi, serta menjadikan pengalaman di Porseni sebagai bekal untuk meraih prestasi yang lebih tinggi pada masa mendatang.

Lebih dari itu, Risma menilai setiap anak memiliki keistimewaan dan potensi masing-masing. Ada anak yang menonjol dalam bidang akademik, olahraga, seni, maupun bidang lainnya. Tugas sekolah dan keluarga adalah menemukan potensi tersebut, kemudian memberikan ruang agar dapat tumbuh dan berkembang.

Karena itu, dukungan tidak cukup hanya datang dari lingkungan sekolah dan keluarga. Perhatian masyarakat hingga pemerintah juga dinilai penting, terutama dalam memberikan apresiasi kepada anak-anak madrasah yang mampu mengukir prestasi.

“Semoga prestasinya terus meningkat. Kami juga berharap ada dukungan dan apresiasi dari semua kalangan, baik sekolah maupun pemerintah, kepada anak-anak sekolah madrasah swasta yang memiliki prestasi,” katanya.

Harapan tersebut menjadi pesan penting bahwa prestasi seorang anak tidak semata-mata ditentukan oleh megahnya fasilitas sekolah. Di balik sebuah pencapaian, ada keberanian untuk mencoba, guru yang memberi kesempatan, keluarga yang memberikan dukungan, serta lingkungan yang percaya bahwa setiap anak memiliki kemampuan untuk berkembang.

Bagi MIS Namiatusibyan, Juara II yang diraih Alisha bukan sekadar piala yang kemudian disimpan di lemari sekolah. Prestasi itu adalah sebuah cerita tentang keberanian.

Cerita tentang seorang anak dari madrasah swasta di Kampung Harempoy yang berani melangkah ke panggung kompetisi. Cerita tentang bakat yang mendapatkan ruang. Dan cerita tentang bagaimana sebuah puisi mampu membawa nama sekolah sekaligus Kabupaten Garut ke panggung prestasi.

Langkah Alisha masih sangat panjang. Ia baru duduk di kelas IV. Masih banyak panggung yang akan dihadapi, masih banyak puisi yang akan dibacakan, dan masih banyak kesempatan untuk mengasah kemampuan.

Namun, satu hal telah dimulainya hari ini: keberanian untuk bermimpi lebih tinggi.

Dari sebuah madrasah swasta di Bayongbong, Alisha Fahira telah menunjukkan bahwa prestasi tidak selalu lahir dari tempat yang besar. Terkadang, prestasi justru tumbuh dari ruang sederhana, dirawat dengan ketekunan, kemudian mekar ketika seorang anak diberi kesempatan untuk percaya pada dirinya sendiri.

Dan dari bait-bait puisi yang dibacakannya, Alisha tidak hanya memenangkan Juara II.

Ia telah menyuarakan satu pesan penting: bahwa anak madrasah swasta pun mampu berdiri sejajar, berprestasi, dan mengharumkan nama Kabupaten Garut.(Gilang)

Bircunews

Kami Bircunews.com adalah perusahaan media. memberikan informasi berimbang, informatif, edukatif dan berpedoman terhadap undang-undang pers no 40 tahun 1999. Hubungi Kontak Kami untuk Iklan dan Pengaduan Keredaksian di Kontak WA: 082.295.693.903

Exit mobile version