GARUT – Kepedulian terhadap warga lanjut usia yang hidup dalam keterbatasan ditunjukkan Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, dengan mengunjungi Eti Rohaeti, seorang janda lansia penderita stroke yang tinggal seorang diri di rumah tidak layak huni di Kampung Pasir RT 05 RW 03, Desa Cintakarya, Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Senin (29/6/2026).
Eti menjalani hari-harinya tanpa pendamping setelah suaminya meninggal dunia. Dalam kondisi fisik yang terus menurun akibat stroke, ia tinggal di rumah peninggalan orang tuanya yang kondisinya memprihatinkan.
Yudha datang bersama tenaga kesehatan dari Puskesmas Samarang yang dipimpin dr. Dian serta aparat Pemerintah Desa Cintakarya untuk memastikan kondisi kesehatan dan kebutuhan Eti mendapat perhatian.
Selain memberikan dukungan moril, Yudha juga menyerahkan bantuan berupa paket sembako, kebutuhan permakanan, serta bantuan uang tunai guna membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
“Saat kami datang bersama tenaga kesehatan dari Puskesmas Samarang, kondisi Ibu Eti sangat memprihatinkan. Beliau seorang janda tua, suaminya telah lama meninggal dunia, dan kini tinggal seorang diri di rumah peninggalan orang tuanya,” ujar Yudha.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal tim medis, Eti diketahui mengalami hipertensi serta kadar gula darah yang rendah. Menurut Yudha, kondisi tersebut memerlukan penanganan medis dan asesmen lanjutan secara menyeluruh agar dapat ditentukan bentuk layanan yang paling sesuai.
Di sisi lain, berdasarkan data kesejahteraan sosial, Eti masih tercatat berada pada Desil 7 sehingga belum memperoleh bantuan sosial dari pemerintah pusat. Padahal, kondisi yang dihadapi dinilai sangat memerlukan intervensi negara.
“Ibu Eti tidak bisa berjalan dan sulit berkomunikasi dengan baik akibat stroke yang dideritanya. Rumah yang ditempatinya pun sangat tidak layak huni. Beliau hidup seorang diri dan tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat. Ini tentu harus menjadi perhatian bersama,” ungkap Yudha.
Kondisi di dalam rumah Eti pun menggambarkan beratnya kehidupan yang dijalani. Aroma pesing tercium menyengat saat memasuki rumah karena Eti yang sudah tidak mampu berjalan terpaksa buang air besar dan buang air kecil di tempat tidurnya. Meski masih memiliki saudara, adiknya telah berkeluarga dan tinggal di desa lain sehingga tidak dapat mendampingi setiap waktu.
Melihat kondisi tersebut, Yudha berharap Dinas Sosial Kabupaten Garut segera melakukan asesmen lanjutan untuk menentukan langkah penanganan terbaik. Salah satu opsi yang dinilai layak adalah penempatan Eti di panti sosial milik Kementerian Sosial atau Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar memperoleh pelayanan kesehatan dan kesejahteraan sosial yang lebih optimal.
“Yang terbaik bagi Ibu Eti adalah mendapatkan pelayanan kesejahteraan sosial dari negara. Jika keluarga besar mengizinkan, beliau bisa direkomendasikan untuk tinggal di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi. Di sana tersedia layanan kesehatan, pekerja sosial, serta fasilitas yang layak dan nyaman untuk lansia,” katanya.
Yudha menilai Eti membutuhkan rehabilitasi sosial secara menyeluruh. Karena itu, ia mengajak seluruh elemen, baik pemerintah, masyarakat, maupun para dermawan, untuk bergotong royong membantu memenuhi kebutuhan hidup Eti.
“Jangan sampai ada warga lanjut usia yang menghabiskan masa tuanya dalam kesendirian dan penderitaan. Semoga kita semua dapat bahu-membahu membantu agar Ibu Eti dapat menjalani sisa hidupnya dengan lebih layak, sehat, dan bermartabat,” pungkasnya.
Kisah yang dialami Eti Rohaeti menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang membutuhkan perhatian dan perlindungan. Di tengah pembangunan yang terus berjalan, kehadiran negara dan kepedulian masyarakat terhadap kelompok rentan menjadi bagian penting dalam mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh warga.

